Strategi Menjaga AIK Tetap Hidup di Tengah Tantangan Digital dan Pragmatisme – Refleksi Kepala SMA Muhammadiyah Ponjong

Oleh : Mutsanna Hidayati, M.Pd.

Berbicara tentang Muhammadiyah memang sangat menarik, hal itu terbukti ketika saya membuat konten tentang Muhammadiyah di Tik Tok ternyata perhatian penonton luar biasa banyak dibandingkan konten-konten saya sebelumnya tentang hobby; anggrek dan renang. Konten tentang Muhammadiyah yang saya unggah ditonton lebih dari 17 ribu penonton. Berbagai komentar muncul terutama memuji kemajuan Muhammadiyah sekarang. Keberhasilan utama Muhammadiyah saat ini terlihat pada perluasan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), penguatan ekonomi riil, serta Inklusivitas Islam Berkemajuan yang diakui secara luas. Di balik kesuksesan Muhammadiyah di berbagai bidang itu, muncul tantangan yang harus dihadapi.

Tantangan utama Muhammadiyah saat ini mencakup adaptasi terhadap era digital, pergeseran pemahaman keagamaan generasi muda, serta dinamika globalisasi. Empat Tantangan Ber-Muhammadiyah ini menguji ketahanan ideologi dan menuntut adaptasi stategi saya dalam mengelola sekolah yang saya pimpin.  Peran saya sebagai Kepala Sekolah sangat diperlukan. Kepala sekolah dapat memperkuat tajdid (pembaruan atau inovasi) di kalangan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dengan bertindak sebagai transformational leader yang memfasilitasi peningkatan kompetensi dan perubahan pola pikir.

Kalau kita mau jujur, tantangan terbesar sebenarnya bukan dari luar, tapi dari dalam diri kita sendiri. Masih banyak di antara kita belum tahu apa bedanya Muhammadiyah dengan organisasi yang lain. Kita sudah sangat hafal lagu Sang Surya tapi belum paham apa itu Matan Keyakinan, PHIWM dan HPT. Sebagai pendidik kita dituntut untuk paham literasi, terutama literasi AIK. Tantangan Zaman: Islam Berkemajuan ditantang paham instan, viral, dan pragmatis. Kalau identitas ini tidak kita kuatkan dari sekarang, 10 tahun lagi “Sekolah Muhammadiyah” bisa jadi tinggal namanya saja.

Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) merupakan ruh, identitas, dan pilar utama yang membedakan institusi Muhammadiyah (seperti sekolah, universitas, hingga rumah sakit) dengan lembaga lainnya. Ketika kesibukan rutinitas kerja dan kemalasan berinovasi dibiarkan mendominasi, AIK akan bergeser menjadi sekadar formalitas administrative, bukan lagi nilai yang hidup (living values). Dua hambatan utama AIK yaitu, kesibukan (rutinitas teknis dan administrasi). Banyak kader atau pegawai di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) terjebak dalam beban kerja formal (akreditasi, target finansial, birokrasi). Hal ini membuat waktu untuk mengkaji, menginternalisasi dan mengamalkan nilai-nilai AIK menjadi tersita. Kemalasan (Stagnasi dan Kenyamanan), adanya keengganan untuk memperdalam pemahaman agama, malas menghadiri pengajian/baitul arqam, serta enggan memperbarui metode dakwah agar relevan dengan perkembangan zaman.

Strategi melawan kesibukan dan kemalasan untuk menjaga AIK tetap menjadi ciri khas yang kuat, diperlukan langkah-langkah konkret yaitu, reintegrasi nilai. AIK bukan beban tambahan, AIK tidak boleh dilihat sebagai mata pelajaran atau jam kerja ekstra. Nilai-nilai Islam berkemajuan harus diintegrasikan langsung ke dalam SOP kerja harian, cara mengajar, hingga pengambilan keputusan manajemen. Manajemen AUM harus mengalokasikan waktu khusus yang “sakral” dan tidak boleh diganggu oleh urusan administrasi untuk pengkajian AIK (misalnya, pengajian rutin mingguan atau diskusi pemikiran KH. Ahmad Dahlan). Rejuvenasi dan Digitalisasi merupakan dua stategi saling melengkapi yang digunakan untuk memperbarui diri agar tetap relevan di era modern, untuk melawan kemalasan. Metode dakwah yang menarik dengan mengubah format kajian AIK yang monoton menjadi lebih dialogis, berbasis studi kasus, atau memanfaatkan platform digital (podcast, infografis, video pendek). Selain itu juga memberikan penghargaan bagi kader atau karyawan yang menunjukkan implementasi nilai AIK terbaik dalam pelayanan mereka, guna memicu motivasi intrinsik.

Keteladanan Pimpinan (Leading by Example) Gerakan dari Atas,  Pimpinan di struktur Muhammadiyah maupun AUM harus menjadi contoh pertama dalam menghadiri kajian, menonjolkan akhlak Islami, dan menunjukkan kepedulian sosial. Keteladanan adalah obat paling mujarab untuk melawan kemalasan anggota. Melawan kedua hal ini adalah bentuk jihad kontemporer untuk memastikan Muhammadiyah tidak kehilangan kompas moral dan spiritualnya di tengah arus modernisasi.

Hambatan yang kedua adalah masih banyak diantara kita yang belum biasa mengamalkan nilai-nilai karakteristik AIK dalam kehidupan sehari-hari. Di kelas,  masih sering ditemui guru yang belum mengkaitkan mata pelajarannya dengan AIK, sehingga terjadi dikotomi ilmu. Mereka masih terjebak dengan cara mengajar lama. Matematika ya Matematika saja, tidak ada nilai kejujuran dan ketelitian sebagai ibadah. Bahasa Inggris ya Bahasa Inggris saja, tidak ada nilai dakwah global. Kita masih terjebak cara lama, mengajar untuk mengejar nilai, bukan untuk membentuk manusia. Mengamalkan memang jauh lebih susah dari menghafal. Hafal definisi PHIWM itu mudah, tapi untuk tersenyum, menyapa, dan ikhlas melayani siswa setiap pagi, itu butuh pembiasaan. Inilah mengapa AIK sering berhenti di kepala, tidak sampai ke tangan dan kaki

Hambatan ketiga, penggerak AIK di sekolah sering merasa lelah karena merasa berjuang sendirian. Sudah semangat mengajak shalat dhuha berjamaah, tapi tidak ada sistem yang mendukung. Sudah semangat mengintegrasikan AIK, tapi tidak ada apresiasi. Hambatan ini sangat manusiawi. Kita butuh sistem yang memaksa kita untuk istiqomah, bukan hanya himbauan. Butuh jadwal sakral untuk pengkajian AIK yang tidak boleh diganggu oleh rapat apapun. Butuh penghargaan bagi GTK yang menjadi teladan Berkemajuan. Kalau tidak ada sistem, semangat itu akan mati satu per satu. Jika dibiarkan, hambatan ini akan menjadi tembok besar yang memisahkan kita dari cita-cita KH. Ahmad Dahlan.

Di balik semua hambatan itu, saya masih punya harapan besar. Karena saya yakin, Muhammadiyah itu gerakan, bukan gedung. Selagi masih ada satu guru yang ikhlas, Muhammadiyah tidak akan mati. Harapan saya, guru-guru di Ponjong tidak hanya menjadi pengajar, tapi menjadi murabbi dan muaddib. Menjadi pencerah yang dirindukan murid, bukan ditakuti. Itulah implementasi dari Teologi Al-Ma’un yang sesungguhnya.

SMA Muhammadiyah Ponjong di masa datang  tidak hanya dikenal karena lulusannya masuk PTN, tapi karena menjadi pusat pencerahan desa. Sekolah menjadi tempat warga belajar agama yang menggembirakan, tempat Lazismu bergerak, tempat anak-anak kampung betah di masjid, tempat diskusi dan bisa menjadi jalan dakwah untuk melihat kebesaran Allah. AUM harus kembali menjadi solusi atas masalah masyarakat sekitarnya, bukan menjadi menara gading. Dari SMA Muhammadiyah Ponjong akan lahir kader, bukan hanya nilai angka. Suksesnya sekolah Muhammadiyah bukan diukur dari berapa nilai 100 di ijaza, tapi diukur dari, berapa alumni kita yang 10 tahun lagi menjadi Ketua Ranting Muhammadiyah yang aktif, menjadi dokter yang menolak suap karena memegang teguh PHIWM, menjadi petani yang jujur, menjadi guru yang mencerahkan di pelosok. Kalau itu terjadi, berarti AIK kita hidup. Itulah bukti bahwa Muhammadiyah benar-benar Berkemajuan.

Ber-Muhammadiyah itu sederhana. Tidak harus menunggu menjadi Ketua PDM atau Pimpinan Pusat. Cukup mulai dari diri kita sendiri, mulai dari 3 hal kecil:TAHU: Luangkan 15 menit sehari untuk melek literasi. Buka kembali HPT, baca kembali MKCH dan PHIWM. Jangan sampai kita hafal yel-yel, tapi buta ideologi. MAU: Luruskan niat. Niatkan setiap lelah kita mengoreksi tugas, setiap sabar kita menghadapi siswa, sebagai ibadah dan dakwah. Bukan hanya untuk SK dan sertifikasi. BIASA: Jadikan kebaikan sebagai budaya. Biasakan shalat berjamaah tepat waktu, biasakan berkata santun, biasakan budaya malu jika tidak beramal. Tantangan era digital itu nyata. Hambatan kesibukan dan kemalasan itu ada di depan mata. Tapi harapan kita jauh lebih besar. Karena kita tidak sedang bekerja untuk kepala dinas. Kita tidak sedang bekerja untuk akreditasi. Kita sedang bekerja untuk dakwah. Mari bergerak bersama, mencerahkan semesta. Bismillah, dari SMA Muhammadiyah Ponjong untuk Indonesia Berkemajuan.